Kembali ke Daftar Artikel
Kisi-Kisi TIU CPNS: Verbal, Numerik, Figural

Bergabunglah dengan ribuan peserta tryout CPNS yang telah meraih kesuksesan melalui platform kami

Mulai Tryout Gratis

Kisi-Kisi TIU CPNS: Verbal, Numerik, Figural

Materi1 dilihatTerbit: 26 September 2026Update: 26 September 2026Editor: Tim Redaksi Tes CPNS

Kisi-Kisi TIU CPNS: 10 Tipe Soal yang Perlu Dikuasai

Kalau kamu lagi mencari kisi-kisi TIU, sebenarnya yang paling dibutuhkan bukan daftar materi yang panjang, tetapi peta yang jelas: jenis soal apa saja yang harus dikuasai, pola berpikir apa yang dipakai, dan bagian mana yang perlu lebih banyak latihan.

TIU punya tiga kelompok besar, yaitu verbal, numerik, dan figural. Dari tiga kelompok tersebut, ada 10 tipe soal utama. Masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda. Soal deret misalnya, lebih banyak mengandalkan kemampuan membaca pola. Sementara silogisme menuntut kamu disiplin menarik kesimpulan tanpa menambahkan asumsi sendiri. Jadi, daripada belajar TIU sebagai satu paket besar, akan jauh lebih efektif kalau kamu membaginya menjadi beberapa skill kecil.

Peta Kisi-Kisi TIU CPNS

Dalam acuan resmi CPNS terakhir, TIU dibagi menjadi tiga kelompok kemampuan utama.

KelompokTipe Soal
VerbalAnalogi, Silogisme, Analitis
NumerikBerhitung, Deret Angka, Perbandingan Kuantitatif, Soal Cerita
FiguralAnalogi, Ketidaksamaan, Serial

Kalau dirinci, berarti ada 10 tipe soal yang perlu kamu kenali. Struktur tersebut masih mengacu pada KepmenPANRB Nomor 321 Tahun 2024 tentang nilai ambang batas SKD Pengadaan PNS Tahun Anggaran 2024.

Yang perlu diperhatikan, kisi-kisi bukan bocoran soal. Artinya, kamu memang tahu kemampuan yang akan diuji, tetapi bentuk angka, kata, gambar, dan konteks soalnya tetap bisa berubah. Karena itu, target belajar seharusnya bukan menghafal contoh soal, melainkan memahami cara menyelesaikan tiap jenisnya.

1. Verbal Analogi : Cari Hubungan, Bukan Sekadar Persamaan Kata

Analogi verbal meminta kamu menemukan hubungan antara dua konsep lalu menerapkan hubungan yang sama pada pasangan berikutnya.

Contoh:

Pisau : Memotong = Pensil : ...

Jawabannya:

Menulis

Hubungan yang digunakan adalah benda dengan fungsinya. Saat menghadapi analogi, jangan langsung mencari kata yang terasa paling berkaitan. Tentukan dulu hubungan pasangan pertama.

Hubungannya bisa berupa:

  • alat dan fungsi;
  • sebab dan akibat;
  • profesi dan objek kerja;
  • bagian dan keseluruhan;
  • bahan dan hasil;
  • atau kategori dan anggotanya.

Semakin cepat kamu mengenali hubungan tersebut, semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk membandingkan pilihan jawaban.

2. Silogisme: Jangan Menambah Informasi Sendiri

Silogisme terlihat sederhana, tapi sering menjebak karena peserta tanpa sadar memasukkan asumsi yang tidak ada dalam soal.

Contoh:

Semua pegawai divisi A mengikuti pelatihan.

Rina adalah pegawai divisi A.

Kesimpulannya:

Rina mengikuti pelatihan.

Masalah mulai muncul ketika terdapat kata seperti:

semua, sebagian, beberapa, tidak ada, jika, maka.

Contohnya:

Sebagian pegawai adalah analis.

Dari pernyataan tersebut, kamu tidak boleh menyimpulkan:

Semua analis adalah pegawai.

Informasinya tidak cukup.

Untuk silogisme, jangan bertanya:

“Apa yang paling masuk akal?”

Tanyakan:

“Apa yang benar-benar bisa disimpulkan dari informasi yang diberikan?”

3. Analitis: Ubah Narasi Menjadi Pola

Analitis biasanya berisi beberapa orang, posisi, jadwal, atau aturan.

Misalnya:

  • A datang sebelum B.
  • C datang setelah A.
  • D tidak boleh bersamaan dengan B.

Kalau semua informasi disimpan di kepala, soal seperti ini cepat terasa rumit. Lebih efektif kalau kamu mengubahnya menjadi bentuk sederhana.

Misalnya:

A → B

A → C

Lalu tambahkan aturan lain satu per satu.

Untuk soal jadwal, gunakan tabel. Untuk posisi, buat sketsa. Untuk urutan, gunakan panah. Tujuannya bukan membuat catatan yang cantik, tapi mengurangi beban informasi yang harus kamu ingat sekaligus.

4. Berhitung: Cari Cara Pendek

Pada bagian berhitung, operasi matematika yang digunakan umumnya tidak terlalu kompleks. Yang sering membedakan hasil adalah kecepatan.

Contoh:

12,5% dari 640 = ?

Kamu bisa menghitung dengan:

12,5 ÷ 100 × 640

Tapi lebih cepat kalau tahu:

12,5% = 1/8

Maka:

640 ÷ 8 = 80

Saat latihan, jangan hanya mengecek apakah jawabanmu benar. Periksa juga:

"apakah ada cara yang lebih singkat?"

Karena di SKD, satu menit yang bisa dihemat pada satu soal bisa berguna untuk soal lain.

5. Deret Angka: Bangun Urutan Pengecekan

Deret angka sering terasa sulit bukan karena polanya selalu rumit, tapi karena peserta nggak tahu pola apa yang harus dicek lebih dulu.

Contoh:

5, 9, 15, 23, 33, ...

Selisihnya:

+4, +6, +8, +10

Berikutnya:

+12

Jadi jawabannya:

45

Daripada mencoba pola secara acak, gunakan urutan sederhana:

cek selisih → cek perkalian/pembagian → cek pola bergantian → cek selisih bertingkat

Kalau semua pola dasar tidak cocok, baru cari pola yang lebih kompleks.

Cara ini lebih efisien daripada langsung mencoba kombinasi rumit sejak awal. Kalau deret masih menjadi bagian yang sering bikin berhenti lama, kamu bisa fokus dulu lewat materi numerik deret TIU.

6. Perbandingan Kuantitatif: Tidak Selalu Harus Dihitung Sampai Akhir

Pada perbandingan kuantitatif, kamu diberi dua nilai lalu diminta menentukan hubungannya.

Misalnya:

P = 25% × 480

Q = 30% × 400

P: 120

Q: 120

Jadi:

P = Q

Yang perlu dibangun adalah kemampuan melihat hubungan angka dengan cepat. Dalam beberapa soal, kamu bahkan bisa menentukan mana yang lebih besar tanpa menghitung hasil akhirnya secara detail.

Misalnya:

P = 49 × 21

Q = 50 × 20

Keduanya dekat dengan 1.000. Kamu tinggal membandingkan selisihnya daripada melakukan perkalian panjang.

7. Soal Cerita: Masalah Utamanya Sering Bukan Matematika

Ada peserta yang sebenarnya bisa menghitung, tapi tetap sering salah di soal cerita. Penyebabnya sederhana: salah menerjemahkan narasi. Topiknya bisa berkaitan dengan:

  • umur;
  • pekerjaan;
  • jarak;
  • waktu;
  • kecepatan;
  • persen;
  • rasio;
  • untung-rugi.

Sebelum menghitung, biasakan mencari tiga hal:

Apa yang diketahui?

Apa yang ditanyakan?

Hubungan antar datanya seperti apa?

Misalnya:

Sebuah pekerjaan selesai dalam 12 hari oleh 6 orang. Jika jumlah pekerja menjadi 9 orang dengan kemampuan yang sama, berapa lama pekerjaan tersebut selesai?

Jumlah pekerja naik.

Waktu yang diperlukan turun.

Ini adalah hubungan berbalik nilai.

Kalau hubungan dasarnya sudah terbaca, hitungannya justru jadi bagian yang lebih mudah.

8. Analogi Figural: Cari Transformasinya

Pada analogi figural, kamu melihat perubahan dari satu gambar ke gambar lain. Kemudian perubahan tersebut harus diterapkan pada gambar berikutnya.

Yang perlu diperhatikan antara lain:

  • rotasi;
  • arah;
  • pencerminan;
  • jumlah elemen;
  • posisi;
  • warna;
  • arsiran.

Jangan langsung melihat gambarnya sebagai satu objek besar.

Pecah menjadi beberapa unsur.

Misalnya:

bentuk tetap, tetapi arah berubah 90 derajat dan titik berpindah satu posisi.

Kalau transformasinya sudah terbaca, opsi jawaban lebih mudah disaring.

9. Ketidaksamaan Figural: Cari Satu yang Melanggar Pola

Pada soal ketidaksamaan, beberapa gambar terlihat hampir sama.

Tugasmu mencari gambar yang berbeda dari pola kelompok.

Triknya adalah jangan mencari semua perbedaan sekaligus.

Periksa satu unsur dalam satu waktu:

jumlah garis → arah → posisi → arsiran → simetri

Misalnya empat gambar memiliki arah rotasi yang sama, sedangkan satu gambar bergerak berlawanan.

Itulah yang harus ditemukan. Semakin sistematis cara memeriksa, semakin kecil kemungkinan terjebak detail kecil.

10. Serial Figural: Deret Angka dalam Bentuk Gambar

Serial figural prinsipnya mirip deret angka.

Bedanya, yang berubah bukan angka melainkan:

  • posisi;
  • jumlah objek;
  • arah;
  • arsiran;
  • atau bentuk.

Contoh polanya bisa seperti:

rotasi 90° → tambah satu titik → rotasi 90° → tambah satu titik

Berarti ada dua perubahan yang berjalan bergantian.

Kalau hanya melihat satu transisi, pola seperti ini bisa sulit ditemukan.

Biasakan membandingkan:

gambar 1 ke 2

lalu:

gambar 2 ke 3

baru cari pola yang konsisten.

Kalau ingin latihan lebih mendalam, kamu bisa gunakan materi figural TIU CPNS.

Baca Juga: Setelah memahami 10 tipe soal di atas, coba lihat penerapannya dalam 50 contoh soal TIU CPNS 2026 dan pembahasan.

Jangan Beri Porsi Belajar yang Sama untuk Semua Kisi-Kisi

Setelah tahu 10 tipe soal, jangan langsung membuat jadwal:

10 materi × 1 jam Belum tentu efektif. Misalnya hasil latihan awalmu seperti ini:

Tipe SoalAkurasiKecepatan
Analogi90%Cepat
Silogisme85%Cepat
Analitis60%Lambat
Berhitung90%Cepat
Deret55%Lambat
Perbandingan80%Sedang
Soal Cerita65%Lambat
Figural75%Sedang

Kalau hasilnya seperti ini, belajar analogi selama satu jam lagi mungkin bukan penggunaan waktu terbaik.

Prioritasmu lebih masuk akal:

Deret → Analitis → Soal Cerita

Karena ketiganya punya kombinasi akurasi rendah dan waktu pengerjaan yang masih lambat.

Biar fokus belajarnya nggak ditentukan dari feeling: hasil latihan dan tryout di tes-cpns.com juga dianalisis untuk memberikan rekomendasi serta jadwal belajar harian berdasarkan performa. Jadi materi yang masih tertinggal bisa mendapat porsi belajar lebih besar.

Ada Materi yang Butuh Drill, Ada yang Butuh Balik ke Konsep

Semua kelemahan nggak harus diselesaikan dengan cara yang sama. Kalau kamu sudah paham deret tapi masih lambat mengenali pola, drilling bisa membantu. Semakin banyak variasi pola yang dilihat, semakin cepat kamu mengenalinya.

Hal yang sama berlaku untuk:

  • analogi;
  • berhitung;
  • figural.

Tapi kalau kamu terus salah silogisme karena cara menarik kesimpulannya keliru, mengerjakan lebih banyak soal belum tentu menyelesaikan masalah. Kamu perlu kembali ke konsep. Begitu juga soal cerita. Kalau kamu belum paham perbedaan perbandingan senilai dan berbalik nilai, tambahkan pemahaman dulu sebelum mengejar kecepatan.

Jadi bedakan:

Belum paham → belajar konsep

Sudah paham tapi lambat → drill

Sudah cepat tapi sering salah → latihan ketelitian

Contoh Jadwal TIU 7 Hari yang Lebih Fleksibel

Kalau belum punya data kemampuan awal, kamu bisa mulai dari jadwal seperti ini:

Hari 1 — Verbal

Analogi dan silogisme.

Hari 2 — Analitis

Fokus soal urutan, posisi, dan pengelompokan.

Hari 3 — Numerik dasar

Berhitung dan perbandingan kuantitatif.

Hari 4 — Deret

Latihan beberapa jenis pola.

Hari 5 — Soal cerita

Fokus menerjemahkan narasi menjadi model angka.

Hari 6 — Figural

Analogi, ketidaksamaan, dan serial.

Hari 7 — Latihan campuran

Gabungkan semuanya dan evaluasi.

Minggu berikutnya, jadwalnya jangan diulang mentah-mentah. Kalau deret ternyata sudah meningkat, kurangi porsinya. Kalau analitis masih bermasalah, tambah jam latihan di bagian tersebut. Jadwal yang mengikuti hasil latihan jauh lebih berguna daripada jadwal yang kaku.

Kapan Sebaiknya Mulai Tryout?

Tryout nggak harus menunggu seluruh materi sempurna. Tapi juga nggak ideal kalau dari awal belajar kamu hanya mengerjakan tryout penuh setiap hari. Gunakan tryout ketika kamu sudah:

  • mengenal seluruh tipe soal;
  • memahami pola dasarnya;
  • punya gambaran bagian yang lemah;
  • dan mulai terbiasa mengerjakan soal per kategori.

Setelah itu, tryout berguna untuk menguji sesuatu yang nggak terlihat dari drilling:

apakah kemampuanmu tetap stabil ketika semua tipe soal bercampur dan ada tekanan waktu?

Kamu bisa menggunakan latihan soal CPNS per subkategori untuk membangun kemampuan per bagian, lalu pindah ke Tryout Tes CPNS 2026 gratis tanpa syarat saat ingin menguji performa secara menyeluruh.

Berapa Jumlah Soal dan Skor TIU?

Pada pola resmi CPNS terakhir, TIU terdiri dari:

35 soal

Setiap jawaban benar bernilai:

5 poin

Sedangkan jawaban salah atau tidak dijawab:

0 poin

Jadi nilai maksimal TIU:

35 × 5 = 175

Untuk kebutuhan umum CPNS 2024, nilai ambang batas TIU ditetapkan sebesar 80 poin berdasarkan KepmenPANRB Nomor 321 Tahun 2024.

Secara matematis:

16 jawaban benar × 5 = 80

Tapi jangan menjadikan 16 benar sebagai target latihan.

Angka 80 adalah batas minimum, bukan jaminan kamu berada pada posisi yang kompetitif.

Kalau hasil latihanmu terus berada:

80 → 85 → 75 → 80

berarti performanya masih belum stabil.

Untuk CPNS 2026, ketentuan khusus tetap perlu mengikuti peraturan resmi terbaru apabila pemerintah menerbitkan regulasi baru.

Menariknya, struktur TIU yang sama—verbal, numerik, dan figural—juga tetap digunakan dalam SKD Sekolah Kedinasan 2026.

Checklist Kisi-Kisi TIU Sebelum Ujian

Daripada sekadar bertanya:

“Sudah belajar TIU belum?”

lebih berguna kalau kamu mengecek satu per satu.

  • Analogi: sudah bisa menemukan hubungan kata dengan cepat?
  • Silogisme: sudah bisa menarik kesimpulan tanpa menambahkan asumsi?
  • Analitis: sudah terbiasa mengubah narasi menjadi tabel, urutan, atau simbol?
  • Berhitung: operasi dasar sudah cukup cepat?
  • Deret: sudah punya urutan untuk mencari pola?
  • Perbandingan kuantitatif: sudah terbiasa menyederhanakan data
  • Soal cerita: sudah bisa menentukan informasi yang benar-benar diperlukan?
  • Analogi figural: sudah terbiasa membaca transformasi gambar
  • Ketidaksamaan: sudah sistematis mengecek detail?
  • Serial: sudah bisa melihat lebih dari satu pola perubahan?

Kalau ada beberapa bagian yang jawabannya masih “belum”, itulah yang masuk daftar belajar berikutnya. Bukan berarti harus memulai TIU dari nol lagi.

FAQ Kisi-Kisi TIU

Apa saja kisi-kisi TIU CPNS?

Kisi-kisi TIU terbagi menjadi verbal, numerik, dan figural. Secara rinci terdiri dari analogi, silogisme, analitis, berhitung, deret angka, perbandingan kuantitatif, soal cerita, analogi figural, ketidaksamaan, dan serial.

Ada berapa tipe soal dalam kisi-kisi TIU?

Ada 10 tipe utama, yaitu tiga soal verbal, empat numerik, dan tiga figural.

Apakah sinonim dan antonim termasuk kisi-kisi resmi TIU?

Dalam struktur resmi CPNS terakhir, kemampuan verbal dirinci menjadi analogi, silogisme, dan analitis. Sinonim dan antonim tidak disebut sebagai subkategori tersendiri dalam kisi-kisi tersebut.

Apakah kisi-kisi TIU 2026 sudah berubah?

Untuk CPNS, acuan resmi terakhir yang masih tercatat berlaku adalah KepmenPANRB Nomor 321 Tahun 2024. Jika pemerintah menerbitkan ketentuan khusus CPNS 2026, kisi-kisi perlu disesuaikan dengan aturan terbaru.

Berapa jumlah soal TIU?

Pada pola CPNS terakhir terdapat 35 soal TIU dengan nilai maksimal 175 poin.

Berapa nilai ambang batas TIU?

Untuk kebutuhan umum CPNS 2024, nilai ambang batas TIU adalah 80 poin. Angka untuk CPNS 2026 perlu mengikuti ketentuan resmi terbaru jika aturan baru diterbitkan.

Materi mana yang sebaiknya dipelajari lebih dulu?

Mulai dengan tes singkat dari seluruh kategori. Prioritaskan materi dengan kombinasi akurasi rendah dan waktu pengerjaan paling lambat.

Apakah cukup belajar berdasarkan kisi-kisi?

Kisi-kisi membantu menentukan cakupan belajar, tetapi tetap perlu latihan dengan berbagai variasi soal. Yang perlu dikuasai bukan contoh soalnya, melainkan pola berpikir untuk menyelesaikannya.

Sumber dan Konteks

Artikel ini disusun oleh Tim Redaksi Tes CPNS sebagai panduan belajar dan konteks penggunaan platform. Lihat juga Kebijakan Editorial dan Tentang untuk memahami standar penulisan kami. Untuk informasi resmi yang bisa berubah, seperti jadwal, syarat, dan ketentuan seleksi, cocokkan juga dengan SSCASN dan BKN.

Tanggal terbit: 26 September 2026Update terakhir: 26 September 2026

Langkah berikutnya

Gabungkan bacaan ini dengan simulasi dan latihan soal: tryout mengukur stamina ujian, latihan harian memperkuat topik lemah, dan materi PDF melengkapi konsep TWK, TIU, serta TKP.

Bergabunglah dengan ribuan peserta tryout CPNS yang telah meraih kesuksesan melalui platform kami

Mulai Tryout Gratis

Lanjutkan Bacaan

Pilihan bacaan berikutnya dari topik Materi.

Semua Artikel
Kisi-Kisi TIU CPNS: Verbal, Numerik, Figural | Artikel CPNS